Kamis, 07 Agustus 2008

Membangun Citra Lewat Penampilan Berita Terkini

MEMBANGUN CITRA LEWAT PENAMPILAN

MEMBANGUN CITRA LEWAT PENAMPILAN

Tampil di tengah masyarakat kadang seperti menayangkan film tentang diri sendiri.Semua orang menonton dan semua menilai.Bedanya, sutradara di film jenis ini boleh jadi tidak sadar dgn mutu tayangannya.

Semua orang tentu ingin tampil cool, calm, dan confidence; wibawa, tenang, dan percaya diri.Keberadaannya begitu diperhitungkan, omongannya diperhatikan, dan gerak langkah hidupnya menjadi teladan.Sayangnya, tidak semua yang menjadi cita-cita bisa tampil nyata.

Hal itu bisa dialami siapa pun.Bisa seorang dai yang butuh keyakinan khalayak bahwa misinya patut diperhatikan dan diikuti.Bisa juga seorang politisi yang butuh dukungan publik.Seorang sales yang ingin merebut perhatian dan daya tarik orang banyak.Bahkan, dalam hal-hal sederhana seperti penampilan dalam kehidupan sehari-hari: berumah tangga, bertetangga, berteman, dan sebagainya.

Mungkin, yang terbayang tentang penampilan bagus adalah busana mahal, kendaraan mewah, dan aksesoris serba wah.Tidak heran jika tidak sedikit orang yang kerap memaksakan diri untuk tampil beda.Pokoknya, bagus, mahal, dan mewah.Filosofinya tidak jelimet: naikkan gengsi diri, orang-orang bisa dikuasai.

Cara itu terkesan ampuh.Tapi, tidak begitu ketika bergulir di kehidupan nyata.Ada beberapa hal yang boleh jadi memunculkan masalah baru.Pertama, tidak semua keadaan dalam pergaulan bisa menerima tampilan yang wah.Alih-alih ingin tampil ‘beradab justru bisa dianganggap ‘biadab .Karena dari situlah kecemburuan sosial muncul.

Kedua, tidak tertutup kemungkinan muncul kecurigaan.Sederet prasangka bisa tiba-tiba datang jika tampilan tidak sesuai dgn keadaan: ada apa orang seperti ini datang, dari mana kemewahan itu, dan seterusnya.

Ada juga pemAndangan lain.PemAndangan ini bisa dibilang kebalikan dari yang serba wah.Bahkan bisa dibilang, mereka tampil nyaris tanpa aksesoris.Apa adanya.Mulai dari busana yang seperti tak pernah tersetrika, bau badan, dan soal rambut yang terbiarkan semrawut.

Sepertinya, ada yang kurang tepat tentang tafsiran sederhana.Mereka seolah menafsirkan kalau sederhana tidak beda dgn tampilan baju lusuh, mandi yang ala kadarnya, dan kendaraan yang seperti jarang tercuci.

Ini mungkin juga diperkuat dgn tafsiran kalau hamba Allah yang baik tidak usah terpengaruh dgn dunia yang penuh tipu daya.Biarkan dunia tampil bagus dan gemerlap.Kita tampil biasa-biasa saja.Ala kadarnya.

Itu memang benar.Tapi, tidak berarti menyepelekan penampilan.Bukan berarti tidak perlu berhias.Sebuah firman Allah swt.mengajarkan kalau tampil bagus itu sangat dianjurkan.Allah swt.berfirman dalam surah Al-A raf ayat 31, Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid.

Jika pemahaman kurang tepat tadi yang akhirnya menjadi kesan pertama, beberapa tafsiran tidak enak bisa mengalir tak terbendung.Pertama, boleh jadi orang lain merasa kurang sreg dgn kemampuannya.Ada logika yang mulai membayang: kalau mengurus diri sendiri saja belum pas, bagaimana mungkin bisa sukses mengurus orang banyak.Tafsiran ini memang tidak terungkap.Tapi, begitu membekas kuat di hati lawan bicara.

Kedua, tidak tertutup kemungkinan muncul kebingungan orang yang masih awam tentang Islam.Kok, Islam beda dgn yang di buku-buku dan ceramah-ceramah.Di buku Islam mengajarkan kebersihan dan kerapian.Sementara, yang dianggap paham soal Islam kurang bersih dan rapi.Jadi, mana yang salah: teori atau prakteknya.

Sebenarnya, ajaran Islam soal penampilan sederhana.Tidak perlu bermewah-mewah.Apalagi memaksakan diri supaya bisa kelihatan mewah.Karena kalau salah tempat, tampil wah bisa rawan kecemburuan sosial.

Namun juga, tidak perlu menyiksa diri agar bisa jauh dari pengaruh gemerlap dunia.Karena dalam hidup bermuamalah, tiap pos ada ciri khasnya.Tidak bisa dipukul rata.Terlebih jika sederhana menjadi tidak peduli dgn kerapian dan kebersihan.

Sedikitnya, ada tiga keadaan agar penampilan tidak melahirkan masalah.Tiga hal itu sangat sederhana: bersih, serasi, dan rapi.

Bersih punya dua cakupan: fisik dan jiwa.Bersih fisik sangat mencirikan kalau seseorang itu memang seorang muslim yang baik.Itulah yang diajarkan Islam dalam berwudhu.Orang yang malas mandi pun bisa ‘dipaksa bersih-bersih dgn air sedikitnya lima kali sehari.Dan yang diguyur air bisa mewakili seluruh anggota tubuh: mulut, rongga hidung, muka, tangan, kepala, telinga, dan kaki.Sebelum itu, seseorang mesti suci dari hadats kecil dan besar.

Bersih jiwa bahkan mestinya mendahului fisik.Karena fisik seseorang adalah cerminan jiwanya.Jiwa yang selalu dibersihkan membuat seseorang tampil tenang.Tidak gelisah, apalagi kasar dan jorok.

Dua bersih ini diajarkan Islam.Firman Allah swt.dalam surah Al-Muddatstsir ayat 4 dan 5.Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.

Selain bersih, serasi juga bukan hal sepele.Ini butuh kepekaan.Di mana mesti tampil dgn busana resmi, dan di mana berpakaian sederhana.Sederhana dalam model dan harga.Karena tidak semua orang bisa lapang dada dgn tampilan yang beda.Boleh jadi, kesenjangan bisa mengganggu keharmonisan ikatan persaudaraan.Rasulullah saw.memberi nasihat, Jangan tunjukkan kegembiraan di tengah penderitaan saudaramu.Jika tidak, niscaya Allah akan menyelamatkannya dan menimpakan (musibah) kepdmu. (HR.Attirmidzi)

Seorang muslim adalah manusia yang paling siap tampil di hadapan yang lain.Dan penampilannya tidak mengecewakan, apalagi menyusahkan.Amal perbuatan yang paling disukai Allah sesudah yang wajib ialah memberikan kesan menyenangkan kedalam hati seorang muslim

sumber Membangun Citra Lewat Penampilan : Majalahsaksi.com
Membangun Citra Lewat Penampilan