Kamis, 24 Juli 2008

Analisis Rob Maul Transfer Pemain Abaikan Perekonomian Berita Terkini

ANALISIS
ROB MAUL


TRANSFER PEMAIN ABAIKAN PEREKONOMIAN

ANALISIS
ROB MAUL


TRANSFER PEMAIN ABAIKAN PEREKONOMIAN

Dari sudut pandang ekonomi, tak ada yang bisa menyangkal bahwa saat ini adalah masa sulit bagi masyarakat Inggris Raya. Aktivitas bisnis yang semula mekar mendadak merasakan efek finansial dari "credit crunch". Kekhawatiran publik menyangkut perekonomian global pun kian tumbuh.


Kenaikan harga bahan bakar dan pangan serta semakin lesu bisnis properti dalam enam bulan ke belakang menggambarkan penderitaan dan kondisi stres warga di lapisan berpendapatan terendah dengan kerja paling berat.


Meski begitu, sepakbola tampaknya menjadi bisnis yang sama sekali berbeda. Imbas kekhawatiran dunia terlihat relatif kurang berpengaruh. Pemain dengan level tinggi justru semakin kaya dari waktu ke waktu. Kendati pembelian overall mengalami penurunan di tahun ini, mereka yang berada di Premier League malah siap menghabiskan jutaan pound dalam upaya mengejar kesuksesan menjelang bergulirnya musim baru.


Sejak 30 Juni misalnya, cuma dalam enam transaksi transfer, lebih dari 47 juta pound sudah melewati rekening bank klub-klub papan atas negeri ini. Kita pantas berterima kasih pada gelombang pemilik klub asing yang kaya raya. Juga pada kenaikan hak siar televisi.


Tren ini akan terus berlanjut sampai ditutupnya jendela transfer. Anda meragukan saya? Masih butuh bukti lebih dari kegilaan tanpa belas kasihan ini? Well, tengok saja situasi yang menyelimuti Ronaldo de Assis Moreira atau pemain yang lebih populer dengan sebutan Ronaldinho.


Tatkala secara resmi Barcelona tampak hendak mengakhiri kerjasama 5 tahun dengan gelimang trofi bersama Ronaldinho, setelah musim terakhir yang mengecewakan akibat pesta tengah malam dan menurunnya kebugaran, perang tawaran yang melibatkan klub-klub besar dunia pun tak terelakkan.


Saat beritanya dikonfirmasi , kakak sekaligus agen pemain yang meraih gelar juara dunia bareng Brasil ini diinstruksikan untuk bernegosiasi guna mendapatkan deal dengan keuntungan finansial terbaik. Untuk pemain 28 tahun, yang setidaknya masih memiliki sisa tiga hingga empat tahun sebelum betul-betul habis, harusnya tidak sulit.


Pilihan tujuan tampaknya bakal tanpa ujung. Tapi, faktanya Manchester City, tim terbaik kesembilan di Premier League, yang justru menjadi pelari terdepan dalam perburuan tanda tangan. Tak ayal, ini pun menjadi kisah transfer terbesar tahun 2008, sejauh ini.


Ingat, Ronaldinho dua kali terpilih sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA. Ia dipilih ribuan pelatih dan kapten tim dunia dan juga dianggap sebagai salah satu aset pemasaran terbaik di dunia sepakbola.

Sebaliknya, City merupakan klub semenjana yang tak pernah merebut gelar sejak 1976, klub yang 10 tahun lalu terdegradasi ke divisi II. Rasanya kita tak akan mampu menemukan hubungan yang lebih aneh lagi.


Kunci dari pengejaran tanpa lelah mereka adalah kemauan keras Thaksin Shinawatra, pemilik dan mantan perdana menteri Thailand, yang ingin membeli "galactico" pertama.


Dua pertemuan pendahuluan terjadi pada April. Sejak itulah diskusi lanjutan muncul. Ironisnya, pekan lalu Ronaldinho manolak tawaran gaji 200 ribu pound per pekan. Jika tawaran ini benar dan diterima, tak hanya akan menciptakan rekor dunia gaji, ia juga merusak kemapanan struktur gaji di Premier League.


Menolak tawaran fantastis City, berarti Ronaldinho memandang masa depannya, yang masih menggantung, ada di tempat lain. Mungkin saja Chelsea, yang memiliki keuangan tak terbatas. Di sini ia akan menjadi amunisi impian dari rencana The Blues untuk mendominasi dunia.

Dinho pun akan dengan mudahnya mendapat segala keinginan mengingat Roman Abramovich, yang pernah menawarkan harga 54,5 juta pound 3 tahun lalu, adalah penggemar beratnya.

Sepertinya London lebih cocok lantaran pertemuan dengan mantan pelatih Brasil, Luis Felipe Scolari, juga kerja sama bareng Deco. Ditambah EPL, yang mampu menyedot pemirsa paling banyak, Inggris bisa menjadi landasan terbaik Dinho guna pamer kualitas.


Dari perspektif pemasaran, Chief Executive FA, Richard Scudamore, tentu akan sangat senang dengan kehadiran Ronaldinho. Apalagi beberapa pemain teras liga seperti Cristiano Ronaldo, Emmanuel Adebayor, dan Frank Lampard siap hijrah.


Dalam waktu dekat ini, diharapkan transfer saga Cristiano bakal mencapai klimaks. Dengan pencapaian komplet bersama United, Ronaldo mulai mencari kemungkinan bermain di tempat lain. Tak bisa disangkal bahwa tawaran uang lebih, didapat dalam iklim Spanyol yang lebih hangat, sangat menggoda.

Loyalitas terlupakan. Dua musim lalu, United mendukung habis Ronaldo, yang dimusuhi media lantaran dinilai telah menyebabkan terusirnya Wayne Rooney di perempatfinal PD 2006. Rasanya adil untuk menyebut kualitas tinggi Ronaldo ini adalah buah dari kerja keras tim pelatih United di Carrington.


Uang jelas menjadi faktor penentu. Tapi, persepakbolaan Inggris adalah kubu yang kalah. Kepergian Ronaldo, Adebayor, dan Lampard, yang secara total mengoleksi 65 gol musim lalu, bakal dirindukan publik.


Meski demikian, tidak seluruhnya akan berakhir sedih. Beberapa talenta spesial siap mendarat, seperti Didier Digard yang dibeli Middlesbrough, Jose Bosingwa yang digiring Chelsea, serta Giovani Dos Santos dan Luka Modric yang dibawa Tottenham.


Sangat menarik menunggu bergulirnya liga. Untuk sementara waktu, lupakan "credit crunch", abaikan keharusan untuk berhemat. Sepakbola, seperti yang telah terjadi selama 16 tahun terakhir, mengoperasikan kebijakan finansial berbeda dibanding bisnis lain.

sumber Analisis
Rob Maul


Transfer Pemain Abaikan Perekonomian : BolaNews.Com
Analisis
Rob Maul


Transfer Pemain Abaikan Perekonomian